twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

KECERDASAN


            Jason H., siswa kelas dua SMU Coral Springs, Florida, diberitakan dalam The New York Times 23 Juni 1992 menusuk guru fisikanya dengan sebilah pisau. Tidak jelas alasan sesungguhnya. Tetapi, fakta-fakta yang dilaporkan antara lain menyebutkan bahwa guru fisikanya itu memberinya nilai B dalam sebuah tes. Jason yang selalu mendapat nilai A, yakin bahwa nilai B itu akan menghalangi cita-citanya masuk Harvard. Ia lalu membawa sebilah pisau dapur dan menusukkannya di tulang selangka gurunya dalam sebuah pergumulan.
            Meski guru itu bersaksi bahwa ”ia betul-betul mencoba membunuh saya dengan pisau itu”, tetapi hakim membebaskannya karena empat psikolog yang dihadirkan bersumpah bahwa ia mengalami kegilaan saat kejadian itu. Dua tahun kemudian Jason yang pindah ke sekolah lain lulus dengan nilai kumulatif sempurna. Meski lulus dengan nilai terbaik, tetapi guru fikikanya itu mengeluh bahwa Jason tidak pernah meminta maaf dan tidak mau bertanggung jawab sedikit pun atas serangannya dulu.
            Orang boleh geleng-geleng kepala. Bagaimana mungkin anak yang cerdas dengan IQ tinggi itu bisa melakukan sesuatu yang sungguh-sungguh bodoh? Jawabnya sederhana. Benar ia memiliki kecerdasan akademis tetapi mungkin tidak untuk kecerdasan emosional. Ilustrasi itu dipakai oleh Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence untuk menekankan bahwa kecerdasan emosional tidak bisa diabaikan.
            Isu kecerdasan sedang gencar memprovokasi masyarakat, utamanya para orang tua. Berbagai produk untuk anak dikemas dengan isu kecerdasan. Makanan, minuman, dan berbagai jenis permainan anak ditawarkan sebagai produk yang merangsang kecerdasan. Kursus-kursus yang dikaitkan dengan kecerdasan pun menjamur. Dan, semua yang ditawarkan itu dilalap habis oleh masyarakat modern yang mendamba kecerdasan. Lalu, jangan-jangan para produsen itu akan berkata seperti Mark Twain pernah berkata, “Kita harus berterima kasih dengan adanya orang-orang yang tidak berakal. Karena kebodohan merekalah kita mendapatkan hasil.”
            Ironis. Tetapi, tengok saja betapa para orang tua sangat suka membanggakan anaknya mengikuti banyak kursus. Atau, membanggakan nilai anak di sekolah. Anak yang pandai, itulah yang membanggakan orang tua. Pandai itukah kecerdasan? Jarang terdengar, misalnya, orang tua bangga karena anaknya minta maaf sesaat setelah berbuat salah. Atau, bangga anaknya bisa mendamaikan temannya yang bertengkar. Bukankah sebenarnya ini juga semacam bibit kecerdasan di wilayah berbeda yang perlu dibina bagi seorang calon negosiator atau mediator perdamaian yang amat dibutuhkan dalam kehidupan bersama? Tetapi, mengapa orang cenderung memberi tekanan pada kecerdasan akademis saja?
            Tidak dipungkiri, kecerdasan amat dibutuhkan. Y.B. Mangunwijaya selalu mengingatkan bahwa kecerdasan adalah suatu yang harus diutamakan. Karena, orang yang cerdas akan mampu mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi. Ia tidak akan lari, sebab tahu cara pemecahannya. Tetapi, kata cerdas itu sendiri apa artinya? Lagi-lagi kita bakal dibingungkan oleh pendapat banyak orang, bahkan pakar. Tengok saja istilah kecerdasan intelektual yang sering dipertentangkan dengan kecerdasan emosional. Istilah intelektual sendiri berasal dari akar kata dalam bahasa Inggris yang berarti kecerdasan. Lalu, apa itu kecerdasan intelektual? Mungkin, maksudnya kecerdasan di wilayah rasional.
            Tiap orang rasa-rasanya mengucapkan kata kecerdasan dengan muatan makna berbeda. Para penjual isu kecerdasan untuk mengemas berbagai produk barang atau jasanya itu cukup mengandaikan para konsumen tahu maknanya. Atau, bahkan, tidak tahu pun tidak menjadi soal. Kecerdasan telah menjadi kata pemikat ampuh, tanpa harus menerangkan lagi apa itu kecerdasan dan untuk apa. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) mengartikan kata cerdas sebagai ”sempurna perkembangan akal budinya” (!). Kalau begitu, kata itu bakal menjadi predikat hebat bagi penyandangnya. Tetapi, adakah pendidikan yang memampukan orang menjadi seperti itu?
            Paling-paling, orang hanya bisa berupaya ke arah itu, melalui proses pendidikan multidimensional dan integralistik. Dan, tidak banyak sarana yang seperti itu dari sekian banyak tawaran yang membanjir. Bahkan, meski dikatakan metodenya bakal merangkum perangsangan bukan hanya kecerdasan rasional namun juga emosional. Tetapi, bukankah masih ada juga kecerdasan-kecerdasan lain seperti kecerdasan moral, spiritual, musikal, spasial-temporal, dan lain-lain yang bisa disebutkan orang? Orang cerdas adalah orang unggul seimbang yang memang bakal dibutuhkan oleh masyarakat. Hanya unggul akademis atau pandai terbukti memang belum cukup. Bahkan nyaris menjadi pembunuh sesamanya, seperti Jason. (F.X. Warindrayana)

Thomas Alva Edison

            Pada suatu hari di tahun 1854. Seorang bocah tujuh tahun sambil menangis meninggalkan sekolahnya. Ia mengenggam selembar kertas berisi pesan dari gurunya untuk diberikan kepada orang tuanya, "Karena anak Anda terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran serta menghambat kemajuan proses pembelajaran di sekolah, dan demi rasa tanggung jawab kami terhadap murid-murid yang lain, maka kami sangat mengharapkan agar anak ini secara terhormat mengundurkan diri dari sekolah.”
            Kedua orang tuanya, Samuel Ogden dan Nancy Elliot Edison, tak kuasa menolak. Mereka menyadari bahwa si bungsu dari tujuh bersaudara, yang lahir tanggal 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat itu kadang memang bertingkah aneh. Misalnya saja, pada usia enam tahun ia pernah mengerami telur ayam. Tetapi, mereka tidak pernah menganggap anaknya bodoh. Apalagi, mengolok-olok, menegur, atau memarahi karena “kebodohannya”. Karenanya, mereka sangat terpukul ketika anaknya dikeluarkan dari sekolah yang baru dijalaninya tiga bulan.
            Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa gurunya menilainya terlalu bodoh. Sekadar berbeda dan kadang bertingkah tidak lazim tentu bukan berarti bodoh. Maka komentar-komentar yang dilontarkan pun menjadi terasa sangat menghakimi dan tidak adil. Bukan tidak mungkin anak yang sebenarnya tidak bodoh, atau bahkan anak pandai sekali pun, benar-benar akan jadi bodoh jika gencar dicap sebagai anak bodoh. Anak yang mendapat label negatif bukan tidak mungkin akan memiliki konsep diri yang negatif pula. Misalnya, anak yang sering dikatakan nakal akan cenderung bersikap sebagai anak yang nakal. Terlebih jika yang memberi cap semacam itu adalah orang-orang terdekatnya, terutama orang tua atau gurunya.
            Disadari atau tidak, orang tua kerap memberikan label kepada anaknya. Saat si anak terlihat malu-malu, orang tua langsung menegur, "Ayo, dong! Masak anak Mama pemalu gitu sih? Malu-maluin aja!" Atau, saat si anak bolak balik penasaran menyentuh patung mahal di ruang tamu, "Jangan dipegang-pegang terus. Kamu kok nakal banget sih, enggak bisa dikasih tahu!" Di sekolah, guru pun sama saja. “Kamu kok bodo banget sih? Soal mudah gini aja tidak bisa!”
Sebenarnya, pemberian label ini tidak melulu berisi cap bermakna negatif seperti nakal, bandel, malas, hitam, gendut, dan jelek. Kerap kali orang tua dan guru juga memberikan label melalui kata-kata yang bermakna positif seperti pintar, cerdas, cantik, dan hebat. Keduanya bisa saja berdampak buruk, apalagi kalau tidak berpijak pada kondisi faktual si anak. Anak yang terlalu sering dipuji berkemungkinan menjadi sombong. Sementara anak yang sering dicela cenderung mempunyai konsep diri negatif dengan meyakini bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, dan tidak kompeten.
            Sebaliknya, seseorang dengan konsep diri yang positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Kegagalan lebih menjadikannya sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah ke depan. Konsep diri positif seperti inilah yang ada dalam diri Nancy Elliot dan diterapkan pada anaknya, sehingga sang anak tak terpengaruh label bodoh yang diberikan sekolahnya.
            Memang, setelah membaca pesan guru yang dibawa anaknya, Nancy tak mampu menahan sedih. Air matanya mengalir deras. Tetapi, ia sama sekali tak percaya kalau anaknya itu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran sekolah. "Kalau guru tidak bisa mengajarnya, aku akan menjadi guru bagi anakku sendiri," tekadnya. Nancy, yang pernah berprofesi sebagai guru, lalu mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung. Ternyata si anak dengan cepat menyerap yang diajarkan ibunya.
            Anak ini kemudian sangat gemar membaca berbagai jenis buku, berjilid-jilid ensiklopedi, sejarah Inggris dan Romawi, ilmu kimia karangan Richard G. Parker, kamus IPA karangan Ure, dan Principia karangan Newton. Di akhir hidupnya, anak yang dianggap bodoh oleh para gurunya itu mendapat penghargaan amat besar oleh seluruh penduduk Amerika. Pada tanggal 18 Oktober 1931, jam 21.55, seluruh Amerika gelap gulita. Penduduknya memadamkan semua lampu listrik untuk mengenang jasa penemunya, seorang penemu terbesar sepanjang sejarah, dengan 3.000 temuan. Dialah Thomas Alva Edison, seorang yang dianggap bodoh namun telah mengubah arah perkembangan dunia. Ia tidak pernah menyerah pada label negatif yang diberikan orang lain berkat pengasuhan tepat ibunya. (F.X. Warindrayana)

Menggambar Huruf

Pada awalnya adalah gambar, yang melukiskan bentuk manusia, binatang, atau benda-benda. Itu tertera di dinding gua-gua, di zaman paleolitik, ketika orang ingin menyampaikan pesan. Bentuk “tulisan” awal ini dikenal sebagai piktograf, yang menggambarkan objek-objek konkret. Dari bentuk ini berkembang menjadi ideograf, yang menunjukkan suatu tindakan atau idea-idea abstrak dan imaginatif.
Kesulitan-kesulitan muncul seiring makin kompleksnya kehidupan dan perkembangan idea-idea baru. Kemudian berkembang sistem fonetik, yang mengaitkan lambang dengan bunyi. Pergeseran ini berlangsung dalam waktu ribuan tahun, seperti dialami bangsa-bangsa dengan kebudayaan tua semisal Mesir, Mesopotamia, dan China. Sistem fonetik ini kendati tidak selalu berhasil, tetapi diharapkan jadi lebih sederhana dan fleksibel mengikuti perkembangan.
Abjad atau alphabet, yang kita kenal sekarang ini, adalah sekumpulan lambang yang digunakan untuk mewakili bunyi bahasa. Abjad digunakan untuk mentranskripsi semua bunyi yang digunakan dalam semua bahasa, sedangkan tulisan cuneiform di Mesopotamia, hieroglif di Mesir, dan ideograf digunakan untuk mentranskripsi kata atau suku kata. Abjad modern hanya butuh 26 huruf, sedangkan lambang dalam tulisan Tiongkok ada beribu-ribu, ada ratusan lambang dalam sistem hieroglif, dan sekitar 600 lambang dalam cuneiform.
Keterampilan baca tulis ini kini menjadi modal utama manusia modern untuk menggauli dunia. Ia bisa menjadi alat untuk memahami pikiran orang lain dalam berbagai disiplin ilmu, alat mengomunikasikan gagasan, dan alat mengekspresikan diri. Kalau begitu, kapan sebaiknya seseorang mulai mempelajarinya?
Banyak orang dewasa menyangsikan kemampuan anak-anak untuk mempelajarinya. Bahkan, para guru Taman Kanak-Kanak pun masih berbeda pendapat tentang perlu tidaknya anak-anak TK diajari baca-tulis. Menurut kurikulum, murid TK hanya mendapatkan materi pelajaran dalam suasana bermain. Kalaupun baca-tulis diperkenalkan, itu mesti dalam suasana yang menyenangkan. Namun, pada kenyataannya sekolah dasar bakal memilah siswa yang sudah lancar baca-tulis dan yang belum. Perlakuan ini menimbulkan kekhawatiran banyak orang tua kalau-kalau si anak jadi “ketinggalan”. Guru TK pun merasa tidak nyaman ketika mantan anak didiknya termasuk kelompok yang belum lancar baca-tulis. Untuk menjawab kondisi tersebut, dewasa ini tumbuh kecenderungan Taman Kanak-Kanak mengajarkan baca-tulis sebagai persiapan memasuki SD. Tetapi, sudah siapkah anak-anak TK belajar baca-tulis?
Kita tidak bisa menerapkan cara-cara atau metode baca-tulis untuk anak SD di Taman kanak-Kanak. Sayangnya, kebanyakan TK “tradisional” mengadopsi begitu saja cara pembelajaran tersebut. Karena alphabet digunakan untuk mewakili bunyi bahasa, maka dianggap wajar kalau dalam pengajaran membaca dan menulis lebih banyak digunakan pendekatan bunyi (phonic approach). Harap tahu saja, ketika kita masih melakukan hal itu, negara-negara maju sudah meninggalkan metode tersebut. Alasannya, belajar membaca dan menulis sebenarnya merupakan konsekuensi dari pengembangan kemampuan berbahasa. Untuk anak prasekolah, pengembangan kemampuan berbahasa ini lebih utama. Kemampuan berbahasa dan sosialisasi anak dengan lingkungannya akan menentukan kemampuan anak memberi makna terhadap isi bacaan dan tulisan (construction of meaning) yang disodorkan kepadanya.
Kalau demikian memahaminya, tentu sedikitnya jumlah huruf dalam abjad kita tidak menjadikannya sederhana dan mudah dipelajari dalam fungsi sebenarnya. Kemampuan literasi seperti itu berkembang seiring perkembangan kognisi anak yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Masalahnya, justru pada usia anak prasekolah aspek kognisi ini baru mulai berkembang. Aspek lainnya, seperti keterampilan motorik kasar dan motorik halus sudah lebih dahulu berkembang. Mungkin dengan berpijak pada tahap perkembangan inilah orang tua dan pendidik bisa mengenalkan “menulis” huruf, atau lebih tepatnya “menggambar” huruf, pada anak. Kegiatan ini sesuai tahap perkembangan keterampilan motorik halusnya, sekaligus memberikan stimulasi pengembangannya. Sementara itu, melatih kemampuan membacanya bisa dilakukan lebih dini, meski awalnya hanya “membaca” gambar-gambar, yang pelan-pelan disimbolkan ke rangkaian huruf-huruf, membentuk makna. Ini tentu membutuhkan kesabaran dan waktu lama, seperti evolusi piktograf di gua-gua purba hingga menjadi tulisan modern. (F.X. Warindrayana)

Ketika Anak Dianggap Ketinggalan

Jangan tergesa-gesa menganggap anak ketinggalan dalam meraih kemampuan membaca dan menulis. Apalagi, lalu cepat-cepat mengambil tindakan konkret yang dianggap bakal mengatasi, seperti melakukan drilling atau mengikutkan kursus baca-tulis.

Bukan sekadar membunyikan dan menuliskan huruf
Banyak orang tua gelisah ketika mendapati anaknya belum bisa membaca dan menulis, kendati masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Kegelisahan itu wajar saja muncul ketika orang tua melihat teman-teman anaknya sudah bisa membaca atau menulis. Tetapi, apa sebenarnya yang terjadi pada anak yang dianggap sudah bisa membaca dan menulis tersebut?
Para pakar literasi di negara-negara maju, menurut Goodman (1987), berpendapat bahwa membaca bukan sekadar membunyikan huruf-huruf tetapi memberi makna pada tulisan. Dengan membaca semestinya anak juga berpikir mengenai isi atau makna bacaan tersebut. Karena itu, mengajarkan membaca pada anak akan lebih efektif kalau bertitik tolak dari konteks keseharian yang dialami atau dikenal anak, dan bukan memberikan kata-kata di luar konteks pemahaman anak.
Demikan pula ketika mengajarkan menulis (hand-writing) pada anak. Guru yang mengajarkan keterampilan menulis dengan cara mencontoh dan menyalin, disebut oleh Goodman sebagai upaya yang sia-sia. Menurutnya, pengajaran literasi bukan sekadar mengajak anak belajar membunyikan dan menuliskan huruf-huruf dengan cara merangkai-rangkai, melainkan mengembangkan kemampuan baca-tulis melalui pengembangan kemampuan berbahasa.

Mengembangkan aspek kognisi dalam kemampuan berbahasa
            Harus diakui bahwa masih banyak TK atau sekolah dasar tingkat rendah yang mengajarkan baca-tulis dalam arti mengajarkan sistem atau cara membunyikan, menuliskan, dan merangkai huruf-huruf membentuk kata dan kalimat sesuai buku pegangan. Pengembangan literasi yang dilaksanakan dengan cara itu tentu sangat membatasi kebebasan anak dalam mengembangkan kemampuan berbahasa melalui bacaan-bacaan yang sesuai maupun dalam hal mengekspresikan perasaan dan pikiran melalui tulisan.
            Pengembangan kemampuan baca-tulis ini berkaitan dengan perkembangan kognisi anak yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Baca-tulis dalam konteks pemahaman ini hanya sebagai sarana anak dalam mengekspresikan diri seiring kemampuan berbahasa mereka. Belajar membaca dan menulis menjadi konsekuensi dari pengembangan kemampuan berbahasa. Sementara itu pemaknaan terhadap bacaan dan tulisan ditentukan oleh sosialisasi dan interaksi anak dengan lingkungannya.
            Dalam pembelajarannya, menurut Dra. Retno Priyani, M.Si., psikolog yang mengajar di FKIP USD Jogjakarta, antara membunyikan-menuliskan huruf dan memahami maknanya mesti seiring. Pemilihan kata untuk anak disesuaikan dengan lingkungan pengenalan anak sehingga maknanya dipahami. Anak akan kesulitan kalau pemilihan kata ini tidak akrab dengan dunianya. Proses pengenalan ini menuntut kemampuan kognisi sekaligus menstimulasi perkembangan kognisi anak.

Ketika anak “ketinggalan” dari temannya
            Bukan hanya soal baca-tulis, jika anak “ketinggalan” dibandingkan temannya dalam kegiatan apa pun, orang tua bawaannya suka menjadi gelisah. Tetapi, sebenarnya itu tidak perlu karena tiap anak adalah unik dalam perkembangannya. Hal itu dikatakan Retno Priyani. “Orang tua mesti sabar menghadapi kesulitan anak. Saya dulu juga mengalami. Ada tahap anak saya ketika diminta mewarnai gambar di kelas, coretannya belepotan keluar garis. Saya berpikir, ini kan masih dalam taraf perkembangan motorik halusnya. Anaknya tetap asyik, nggak ada masalah. Kita saja yang pelan-pelan mengarahkan. Toh, itu tidak berlangsung lama. Anak cepat sekali berkembang,” katanya.
            Apakah anak bakal jadi minder akibat ketinggalannya? “Tidak juga,” kata Retno, “Itu tergantung konsep diri anak, bagaimana anak melihat dirinya. Kalau guru di sekolah menyalahkan, teman-temannya mengatakan ia bodoh, di rumah pun orang tua menyebutnya bodoh; mungkin ia akan melihat dirinya betul-betul sebagai orang yang tidak mampu,” lanjutnya. Tetapi, yang seperti itu kemungkinannya amat kecil. Paling tidak, selalu ada kesadaran dari orang tua untuk memberikan penghargaan dan dukungan yang membesarkan hati. Ini penting untuk menepis label negatif yang meneror diri anak.
            “Ketinggalan” di bidang baca-tulis akankah membawa dampak ketinggalan pula di bidang-bidang lainnya? Ini tergantung seberapa lama anak membutuhkan waktu untuk “mengejar” ketinggalannya. Pada umumnya anak tidak akan mengalami kesulitan serius berkaitan dengan baca-tulis kecuali terjadi kelainan-kelainan, seperti disleksia misalnya. “Orang tua sebaiknya tidak tinggal diam ketika melihat teman sebaya si anak sudah mampu membaca dan menulis. Mungkin ia kurang memberi stimulasi pada anak untuk membaca dan menulis. Kalau begitu, orang tua mesti meluangkan waktu untuk memberikan rangsangan dan mengembangkan kemampuan anak,” komentar Retno.

Menyikapi “ketertinggalan” anak
            Apa yang mesti dilakukan orang tua ketika anaknya dianggap “ketinggalan” dalam bidang baca-tulis? Jangan tergesa-gesa mengambil tindakan terhadap anak.
Pertama, amati lagi anak kita. Cocokkan dengan informasi atau data yang kita peroleh dari luar untuk menguji data itu benar atau salah. Jangan langsung membenarkan atau ikut-ikutan orang lain yang mengomentari anak kita.
Kedua, kalaupun informasi ketertinggalan itu berasal dari guru, orang tua tetap perlu mengeceknya kembali. Apalagi kalau guru si anak mesti menghadapi kelas yang besar. Rentangan kontrol dan perhatian personal pada tiap-tiap anak bisa saja kurang cermat.
Ketiga, ada baiknya orang tua tahu metode yang dipakai guru di kelas. Kalau ternyata metodenya tidak efektif, seperti menggunakan pendekatan bunyi yang sudah ditinggalkan di banyak negara maju, orang tua bisa mencoba memberi masukan. Atau, paling tidak orang tua bisa mengimbangi dengan metode yang lebih sesuai untuk anak di rumah.
Keempat, perlu diingat lagi bahwa tiap anak itu unik, termasuk tingkat perkembangannya. Karena itu orang tua perlu mengamati tahap-tahap perkembangan anak dan tingkat kematangannya untuk mempelajari sesuatu. Anak yang keterampilan motorik halusnya belum berkembang dengan baik, mustahil terampil menulis.
Kelima, salah satu petunjuk bahwa anak sudah cukup matang untuk mempelajari sesuatu adalah minatnya yang besar. Misalnya, kalau aspek motorik halusnya sudah muncul, anak cenderung melakukan corat-coret di mana pun. Ini saatnya orang tua mengajarinya menulis.
Keenam, istilah “tertinggal” mungkin lebih baik dikritisi sebagai “terlambat” karena tidak semestinya membandingkan tingkat perkembangan anak dengan anak lainnya. Menuntut anak mengejar “ketinggalan”, salah-salah bisa membuatnya frustrasi.  Istilah “terlambat” lebih tepat, ini ditujukan kepada orang tua atau orang dewasa di sekitar anak yang tidak memberikan stimulasi atau rangsangan yang tepat pada saatnya sehingga tingkat kemampuan anak terlambat dari potensinya.
            Di luar semua itu anak butuh suasana yang mendukung dan contoh dari orang tua atau orang dewasa di sekitarnya. Mengajari anak membaca, misalnya. Anak akan lebih termotivasi kalau ia juga melihat orang tuanya suka membaca. Karenanya, beri anak kesempatan sesering mungkin untuk melihat orang tuanya membaca. Kalau perlu, bacalah dengan volume keras agar didengar anak dan menarik perhatiannya. Ada baiknya, orang tua membagikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi anak dan katakan bahwa itu diperoleh dari membaca buku. Dengan demikian, anak bakal semakin terangsang untuk belajar membaca. (warindra)

Non Scholae Sed Vitae Discimus

            Halaman sekolah dasar dusun di barat kota Yogyakarta itu terasa sejuk diteduhi pepohonan rindang. Sawah-sawah di seberang jalan tampak menghijau segar. Angin pun bertiup semilir siang itu, membuat suasana terasa santai. Tetapi, tidak dengan anak-anak SD yang sedang belajar di kelas. Mereka tampak belajar dengan serius agar nilai mereka tidak mengecewakan guru-guru. Murid-murid kelas VI bahkan harus masuk lagi pada sore hari untuk menambah pelajaran, agar mereka berhasil lulus dengan NEM tinggi.
            Bukan rahasia lagi, NEM tinggi akan menaikkan gengsi sekolah. Sekaligus, menjadi kepuasan para guru. Karena itulah, di sekolah tersebut guru-guru rela tidak menerima honor les tambahan. Tentu, mereka ekstra lelah. Begitu pun para murid, pagi sekolah, sore les, dan malam mengerjakan PR. Kapan bermain dan bersantai? “Anak-anak mesti sekolah,” ujar seorang ibu ketika ditanya apakah semua anaknya disekolahkan. Mengapa? Untuk apa? Pertanyaan itu menyusul. “Supaya pandai dan mudah cari kerja,” jawabnya. Tetapi, untuk apa kerja? Untuk hidup, begitukah?
            Ah, konyol pertanyaan itu. Apa perlunya menanyakan atau mempertanyakan sesuatu yang bakal memasukkan diri pada benang kusut sistem pendidikan kita? Tetapi, jangan-jangan kita memang sudah telanjur konyol karena mekanisme dan sistem telah terstruktur sedemikian rupa sehingga kita mau tidak mau terhanyut di dalamnya. Tengok saja betapa “berkuasanya” lembaga sekolah itu karena dipercaya sebagai satu-satunya lembaga yang berkompeten membuat anak menjadi pandai. Juga menjadi lembaga resmi yang berhak melegitimasi standar kualifikasi diri melalui selembar ijazah. Dan, lembar ini yang bakal turut berperan besar dalam persaingan memasuki pasar kerja. Orang pun bisa jadi ramai-ramai bersekolah untuk mendapatkan lembar itu. Rawan penyimpangan, memang. Bukan rahasia lagi bahwa banyak terjadi jual beli nilai, ijazah, dan gelar di dunia pendidikan kita.
            Bisa dibayangkan angkatan kerja macam apa yang dihasilkan. Persaingan di dunia kerja pun bakal menjadi keras, secara sehat atau tidak sehat. Bukankah yang berbekal ijazah beli pun butuh kerja untuk hidup? Rasa-rasanya, hidup jadi sumpek bagi orang yang masih punya keprihatinan akan hal itu. Orang terkondisi menjadi pragmatis sempit, mengharapkan hasil dari usaha dan kerja jangka pendek mereka. Max Weber pernah memberi perspektif lain dalam bukunya tentang kapitalisme bahwa “kita tidak bekerja untuk hidup, melainkan hidup untuk bekerja”. Mungkin maksudnya hidup sudah ada pada kita, tinggal kita mengisinya dengan kerja. Atau, kerja itulah panggilan hidup dan aktualisasi manusia. Tetapi, paham ini pun bisa melahirkan semangat kerja gila-gilaan. Kerja untuk kerja. Di tengah hiruk-pikuk kerja ini, mungkinkah kita berpikir tentang “santai”?
            Itu bukan pikiran kaum “hippies”, juga bukan hedonis. Kendati tidak lagi mudah dipahami, tetapi Aristoteles menunjukkan bahwa bagi masyarakat Yunani waktu itu pendapat tersebut umum diterima. Santai, dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai “keadaan bebas atau senggang”, merupakan pusat segala-galanya. Aristoteles memakai kata “skole” untuk menunjukkan keadaan senggang tersebut. Kata itu diserap dalam bahasa Latin menjadi “schola”, yang lalu kita kenal dalam bahasa Indonesia sebagai “sekolah”. Menarik, dan barangkali mengejutkan juga, bahwa sekolah yang kini sungguh terasa membebani anak-anak dengan tugas-tugas menyita waktu itu ternyata secara etimologis berarti “santai” atau “keadaan senggang”.
            Santai tidak harus diartikan sebagai pasif dan konsumtif, tetapi bisa juga aktif dan kreatif. Santai adalah salah satu sikap jiwa di wilayah spiritual yang tidak harus dimunculkan oleh faktor-faktor ekstrinsik seperti waktu luang atau hari libur. Sikap itu berlawanan dengan sikap yang hanya mementingkan kegiatan lahiriah. Santai itu “berdiam diri”, menyelaraskan jiwa sebelum mampu menangkap kenyataan. Hanya orang yang diam, yang mampu mendengarkan, menerima, dan menjawab kenyataan. Dick Hartoko, dalam Tonggak Perjalanan Budaya, menggambarkan kedalaman pengertian santai ini dengan menunjuk adanya semacam rasa bahagia yang terkandung di dalamnya. Santai memungkinkan orang mengadakan kontak dengan dunia transendens yang mengatasi dunia manusiawi, sekaligus menyerap roh yang menyegarkan diri kembali.
            Kalau mesti dipahami begitu, betapa bijaknya filosofi santai itu. Dan, yang namanya sekolah itu akan menjadi tempat pembelajaran bijaksana, tempat anak-anak bermain dan belajar tentang hidup ini. Bukan membebani mereka untuk sekadar mengejar angka-angka yang bakal tertera pada selembar kertas. Seperti kata Seneca, non schole sed vitae discimus, bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup kita belajar. (F.X. Warindrayana)

Kalimat Pusaka di Dinding Rumah Makan

            Suatu hari Minggu. Tidak seperti bisanya, siang itu saya mengantarkan istri membeli bakso kesukaan anak kami. Di Pring Gading, bukan tempat lain. Hanya bakso dari rumah makan di Jl Gandekan itu ia suka. Ada bakso sapi, bakso kakap, dan lainnya di tempat ini. sambil menanti dilayani, iseng mata saya menyapu dinding mengamati berbagai hiasan bernuansa etnis Cina. Harap diketahui saja, kawasan ini di masa lalu dikenal sebagai daerah pecinan. Atmosfernya masih terhirup sampai saat ini, meski tanda-tanda fisiknya mulai menghilang. Tiba-tiba mata saya tertumbuk pada sebingkai gambar dengan tulisan-tulisan. Tergoda rasa ingin tahu, saya membacanya. Empat Belas Laku Utama Kehidupan, begitu judulnya, tertulis dalam bahasa Mandarin dan Indonesia.
            Saya tertegun, sepertinya menemukan mantra gaib yang menjawab keheranan selama ini, mengapa para overseas chinese dan keturunannya itu relatif lebih sukses kehidupan ekonominya dibanding penduduk asli setempat. Saya jadi teringat sebuah tulisan (I. Wibowo, 2000) yang mengulas film serial tayangan sebuah saluran TV Singapura (1999). Kisahnya diangkat dari hasil penelitian Chan Kwok Bun dan Claire C.S. Ngoh, dua orang peneliti Singapura. Judulnya Stepping Out. Film ini diawali dengan kisah orang-orang Cina yang keluar meninggalkan pelabuhan Xiamen, di Provinsi Fujian, menuju Singapura untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Setiba di Singapura mereka menjadi kuli, tukang-tukang kasar, pedagang asongan, dan sebagainya. Ada kemiskinan, dan anak-anak pun ikut terlunta-lunta. Digambarkan dengan jelas penderitaan dan perjuangan keras generasi pertama perantau ini. 
            Rangkaian film itu mau bertutur bahwa dulu mereka menderita, sekarang bahagia. Kemegahan kota Singapura, yang nota bene 75% pendudukna beretnis Cina, adalah hasil pembangunan generasi pertama ini. Kisah sukses seperti itu juga dicatat oleh penulis lain. Sterling Seagrave dalam bukunya Lords of the Rim (1995) melukiskan orang-orang Cina yang meninggalkan tanah airnya, merantau ke seluruh penjuru bumi. Ia menyajikan data-data menakjubkan. Tengok saja, ia menyebut di wilayah Pasifik terdapat 55 juta overseas chinese dengan tingkat GNP US$ 450 miliar. Kelompok overseas chinese ini mengontrol liquid assets sebesar US$ 2 triyun. Menurut catatannya, di seluruh Asia Tenggara terdapat tak kurang seratus konglomerat raksasa yang mendominasi ekonomi negara-negara yang ditinggali.
            Menariknya, Seagrave dengan tegas menyatakan bahwa mereka yang berimigrasi itu awalnya bukanlah pengusaha yang sudah kaya. Mereka itu petani, buruh pabrik atau penjaga toko. Dan, sesampai di tanah rantau mereka kebanyakan menjadi kuli atau buruh perkebunan karet. Sampai akhirnya, mereka sukses menjadi lords of the Pacific rim, raja-raja di sabuk Pasifik, menguasai wilayah yang membentang dari Jakarta hingga Vancouver, atau Bangkok sampai San Fransisco. Lebih menarik lagi, Seagrave menunjuk nilai-nilai Konfusian, yang sayang tak dijelaskan rinci, sebagai penyebab paling bertanggung jawab atas sukses mereka itu.
            Analisis itu didukung analis-analis lain seperti George T. Haley, yang menulis buku New Asian Emperors (1998). Kisah awalnya sama seperti dikisahkan dalam Stepping Out, sampai akhirnya mereka menjadi emperors, kata yang dianggapnya lebih impresif daripada lords. Ia membuat daftar para “kaisar baru”  di Asia Tenggara ditambah Hong Kong dan Taiwan. Untuk Indonesia disebutnya nama Liem Sioe Liong, Eka Tjipta Wijaja, Mochtar Riaddy, Suhargo Gondokusumo, dan Prajogo Pangestu. Sama seperti di tempat lain, di Indonesia pun diberitakan mereka itu datang sebagai pedagang kecil, sebelum merembet menjadi pengusaha dan bankir ternama. Dan, lagi-lagi Haley pun menunjuk etika Konfusianisme untuk menjelaskan rahasia kesuksesan mereka. Namun, kali ini secara eksplisit disebutnya unsur “kerja keras”.
            Kerja keras atau “keuletan”. Tatap saya masih terpaku pada kata itu, yang terangkum dalam laku utama ke delapan, dalam lembar berbingkai yang tergantung di dinding Pring Gading. Semangat itu rupanya menjadi pusaka yang telah diwariskan turun-temurun, dan terbukti membawa kesuksesan. Pemilik Pring Gading tentu bukan lord atau malah emperor, tapi ia terbukti survive dari berbagai impitan, termasuk impitan politik Orde Baru. Ia sukses mengubah toko kecilnya yang semula bernama Seng Hwo, menjadi rumah makan yang berkembang.
            Tanpa sadar saya menoleh ke arah anak saya, yang belum berusia tiga tahun. Matanya bening sipit dan kulitnya kuning bersih seperti mamanya. Akankah ia juga bakal mendapatkan mantra gaib itu dari mamanya? Atau, ia bakal mendapat warisan budaya lain dari ayahnya? Kami belum tahu. Sebagai warga nonpribumi -maaf, kosa kata itu sudah dihapus- keturunan overseas chinese generasi keempat, ia tak lagi paham budaya leluhur. Ia pun tak kenal utuh Empat Belas Laku Utama Kehidupan, ataupun Ji Cap Si Hau ajaran Konfusius yang biasa disampaikan orang tua kepada anaknya di masa lalu. Ia bahkan terheran-heran dan tertawa ngakak ketika seorang kerabat jauh membawakan oleh-oleh sejumput tanah leluhur dari Cina Daratan. Tetapi, sementara itu, saya pun tak tahu budaya setempat macam apa yang bisa saya wariskan padanya.
            Namun, kami sepakat. Mesti ada kearifan lokal, nilai yang dipetik, yang diseleksi dari lingkungan konkret saat ini, di era global yang memungkinkan terjadinya benturan berbagai budaya. Yang penting, ia memiliki kebudayaan pribadi yang baik. Tidak menjadi soal apa pun rangsang budayanya. Para overseas chinese itu pun belum tentu mengenal  forma Empat Belas Pedoman Hidup Manusia, tetapi mereka paham nilai utama kerja keras dan keuletan yang terbukti berguna bagi keturunannya. (F.X. Warindrayana)

Memaafkan

            Tanggal 13 Mei 1981, ketika memasuki lapangan Santo Petrus untuk menyampaikan pidato dalam sebuah audiensi umum Yohanes Paulus II ditembak dari jarak dekat dan nyaris tewas. Lukanya lebih berat dari yang diperkirakan semula. Ia terpaksa menjalani perawatan di rumah sakit sampai dua kali. Si penembak, Mehmet Ali Agca, seorang warga negara Turki, mengaku di hadapan penyidik kepolisian Italia bahwa dinas rahasia Bulgaria dan KGB Uni Soviet terlibat dalam usaha pembunuhan ini.
            Suatu pagi di bulan Januari 1984 Yohanes Paulus II mengunjungi sebuah sel di penjara Rebibbia, Roma. Ia menjabat tangan penghuni sel itu, Mehmet Ali Agca, yang telah melakukan usaha percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Ia memaafkan orang yang telah menembakkan peluru ke dadanya dan nyaris membuatnya tewas. Esoknya semua surat kabar menurunkan berita itu.
            Yohanes Paulus II adalah seorang Paus, seorang pemimpin rohani Katolik, orang menganggap wajar ia bersikap sebagai seorang pemaaf yang profesional. Apalagi, ia terkenal. Ada pendapat umum, mudah bagi seorang terkenal untuk memberikan maaf bila diketahui bahwa perhatian seluruh dunia tertuju kepadanya, dan memperhatikan setiap tindakannya. Tetapi, bagi orang biasa yang tidak diperhatikan oleh seorang pun, akan mudahkah memberi maaf?
            Seorang Yahudi yang sedang menjalani kerja paksa di kamp konsentrasi di Lvov, Ukraina, dipanggil oleh seorang perawat ke tempat tidur seorang perwira Nazi yang hampir meninggal. Karl, perwira itu, menceritakan kesedihan ibunya ketika ia bergabung dengan angkatan muda Hitler. Ia tidak mempedulikan ibunya dan masuk dalam ketentaraan. Suatu saat satuan unitnya mengepung 200 orang Yahudi. Di antaranya perempuan, anak-anak, dan bayi. Mereka dikunci dalam sebuah rumah kecil. Karl dan pasukannya melempari rumah itu dengan granat. Terdengar ledakan berbaur dengan jeritan panik dan tangisan. Rumah itu terbakar. Sebagian orang Yahudi dengan anak-anak dalam pelukan berusaha keluar melalui jendela, tetapi Karl dengan sigap menembaki mereka.
            Beberapa hari kemudian, dalam sebuah pertempuran Karl mengalami luka berat dan buta sama sekali. Hal terakhir yang diingatnya sebelum buta adalah seorang Yahudi dalam nyala api dengan seorang anak yang terbakar dalam pelukannya, berjalan menghampirinya. Sekarang, ketika ia terbaring hampir mati, bayangan itu terus mengusiknya. Dalam kegelisahan itu ia ingin berdamai dan dimaafkan oleh seorang Yahudi. Dan, kini di hadapannya telah berdiri seorang Yahudi! Tetapi, si Yahudi itu hanya diam mematung. Lukanya terlalu dalam, ia kehilangan hampir seluruh keluarganya, hingga ia tak mampu mengucap sepatah kata maaf. Dialah Simon Wiesenthal, si Yahudi yang kemudian terkenal sebagai pemburu penjahat-penjahat perang.
            Pada banyak orang, rasa sakit yang ditimbulkan oleh kejadian pada masa lampau tetap berkecamuk di dada mereka. Dan, mereka tak mampu menguasai deburan rasa yang bergulung-gulung dalam dada itu. Tetapi, apakah semua orang Yahudi pada masa itu menyimpan dendam dahyat tersebut? Hannah Arendt (1906-1975), seorang filsuf Yahudi, dalam The Human Condition (1958) menulis bahwa satu-satunya kekuatan yang dapat menghentikan arus ingatan terhadap rasa sakit adalah kemampuan untuk memaafkan. Begitu sederhana kesimpulannya.
            Tetapi, mengapa kita harus memaafkan? Apakah itu adil? Dan, berbagai pertanyaan lain bisa ganti berkecamuk dalam diri. Sepintas, memberi maaf tampak sebagai perbuatan bodoh yang aneh. Prinsip keadilan menempatkan orang yang berbuat salah harus menanggung akibat perbuatan salahnya itu. Hukum positif pun mengatur jelas sanksi-sanksi tindakan salah. Harapannya, manusia menjadi ingat akan moralitas baik sebagai semangat dasar tiap tindakan. Moralitas adalah kewajiban untuk mengambil keputusan yang benar. Sedangkan memaafkan adalah kebebasan untuk mengambil keputusan yang salah.
            Memaafkan sangatlah bernilai justru karena bukan merupakan suatu kewajiban. Bagi sebagian orang memaafkan adalah konsekuensi atau risiko dari cinta. Mungkin, memaafkan adalah risiko yang paling berat dari upaya mencintai. Di lain pihak, memaafkan dengan tulus itu dimampukan oleh cinta sejati yang dimiliki. Paling tidak, itu ajaran cinta yang dihidupi Yohanes Paulus II. Tindakan itu sekaligus menjadi tolok ukur kepenuhan jati diri dan kearifan seorang pribadi.
            Kalau seorang Paus dan mungkin banyak orang lain mampu memaafkan, pasti pada mereka ada cinta. (F.X. Warindrayana)


           

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates