twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Menggambar Huruf

Pada awalnya adalah gambar, yang melukiskan bentuk manusia, binatang, atau benda-benda. Itu tertera di dinding gua-gua, di zaman paleolitik, ketika orang ingin menyampaikan pesan. Bentuk “tulisan” awal ini dikenal sebagai piktograf, yang menggambarkan objek-objek konkret. Dari bentuk ini berkembang menjadi ideograf, yang menunjukkan suatu tindakan atau idea-idea abstrak dan imaginatif.
Kesulitan-kesulitan muncul seiring makin kompleksnya kehidupan dan perkembangan idea-idea baru. Kemudian berkembang sistem fonetik, yang mengaitkan lambang dengan bunyi. Pergeseran ini berlangsung dalam waktu ribuan tahun, seperti dialami bangsa-bangsa dengan kebudayaan tua semisal Mesir, Mesopotamia, dan China. Sistem fonetik ini kendati tidak selalu berhasil, tetapi diharapkan jadi lebih sederhana dan fleksibel mengikuti perkembangan.
Abjad atau alphabet, yang kita kenal sekarang ini, adalah sekumpulan lambang yang digunakan untuk mewakili bunyi bahasa. Abjad digunakan untuk mentranskripsi semua bunyi yang digunakan dalam semua bahasa, sedangkan tulisan cuneiform di Mesopotamia, hieroglif di Mesir, dan ideograf digunakan untuk mentranskripsi kata atau suku kata. Abjad modern hanya butuh 26 huruf, sedangkan lambang dalam tulisan Tiongkok ada beribu-ribu, ada ratusan lambang dalam sistem hieroglif, dan sekitar 600 lambang dalam cuneiform.
Keterampilan baca tulis ini kini menjadi modal utama manusia modern untuk menggauli dunia. Ia bisa menjadi alat untuk memahami pikiran orang lain dalam berbagai disiplin ilmu, alat mengomunikasikan gagasan, dan alat mengekspresikan diri. Kalau begitu, kapan sebaiknya seseorang mulai mempelajarinya?
Banyak orang dewasa menyangsikan kemampuan anak-anak untuk mempelajarinya. Bahkan, para guru Taman Kanak-Kanak pun masih berbeda pendapat tentang perlu tidaknya anak-anak TK diajari baca-tulis. Menurut kurikulum, murid TK hanya mendapatkan materi pelajaran dalam suasana bermain. Kalaupun baca-tulis diperkenalkan, itu mesti dalam suasana yang menyenangkan. Namun, pada kenyataannya sekolah dasar bakal memilah siswa yang sudah lancar baca-tulis dan yang belum. Perlakuan ini menimbulkan kekhawatiran banyak orang tua kalau-kalau si anak jadi “ketinggalan”. Guru TK pun merasa tidak nyaman ketika mantan anak didiknya termasuk kelompok yang belum lancar baca-tulis. Untuk menjawab kondisi tersebut, dewasa ini tumbuh kecenderungan Taman Kanak-Kanak mengajarkan baca-tulis sebagai persiapan memasuki SD. Tetapi, sudah siapkah anak-anak TK belajar baca-tulis?
Kita tidak bisa menerapkan cara-cara atau metode baca-tulis untuk anak SD di Taman kanak-Kanak. Sayangnya, kebanyakan TK “tradisional” mengadopsi begitu saja cara pembelajaran tersebut. Karena alphabet digunakan untuk mewakili bunyi bahasa, maka dianggap wajar kalau dalam pengajaran membaca dan menulis lebih banyak digunakan pendekatan bunyi (phonic approach). Harap tahu saja, ketika kita masih melakukan hal itu, negara-negara maju sudah meninggalkan metode tersebut. Alasannya, belajar membaca dan menulis sebenarnya merupakan konsekuensi dari pengembangan kemampuan berbahasa. Untuk anak prasekolah, pengembangan kemampuan berbahasa ini lebih utama. Kemampuan berbahasa dan sosialisasi anak dengan lingkungannya akan menentukan kemampuan anak memberi makna terhadap isi bacaan dan tulisan (construction of meaning) yang disodorkan kepadanya.
Kalau demikian memahaminya, tentu sedikitnya jumlah huruf dalam abjad kita tidak menjadikannya sederhana dan mudah dipelajari dalam fungsi sebenarnya. Kemampuan literasi seperti itu berkembang seiring perkembangan kognisi anak yang berhubungan dengan kemampuan berbahasa. Masalahnya, justru pada usia anak prasekolah aspek kognisi ini baru mulai berkembang. Aspek lainnya, seperti keterampilan motorik kasar dan motorik halus sudah lebih dahulu berkembang. Mungkin dengan berpijak pada tahap perkembangan inilah orang tua dan pendidik bisa mengenalkan “menulis” huruf, atau lebih tepatnya “menggambar” huruf, pada anak. Kegiatan ini sesuai tahap perkembangan keterampilan motorik halusnya, sekaligus memberikan stimulasi pengembangannya. Sementara itu, melatih kemampuan membacanya bisa dilakukan lebih dini, meski awalnya hanya “membaca” gambar-gambar, yang pelan-pelan disimbolkan ke rangkaian huruf-huruf, membentuk makna. Ini tentu membutuhkan kesabaran dan waktu lama, seperti evolusi piktograf di gua-gua purba hingga menjadi tulisan modern. (F.X. Warindrayana)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Free Website templateswww.seodesign.usFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesAgence Web MarocMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates